"God made us walking animals — pedestrians. As a fish needs to swim, a bird to fly, a deer to run, we need to walk, not in order to survive, but to be happy." — Enrique Penalosa


Friday, March 28, 2008

Cae free day. Bisakah dikelola lebih baik?

30 Maret lusa ada kegiatan rutin menutup Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman pada rentang jam 06:00-14:00. Semoga nanti tidak sesepi ini.
Program Car Free Day juga akan diperluas ke kota madya, seperti di Jalan Wijaya untuk Jakarta Selatan, Jalan Danau Sunter di Jakarta Utara dan di kawasan Kota Tua untuk Jakarta Barat.

Budirama Natakusumah, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, menyampaikan bahwa pada 2006 terselenggara 45 hari bersih, 2007 ada 73 hari, dan 2008 ditargetkan 100 hari bebas polusi.
Dari sisi pengurangan polusi udara, kegiatan Car Free Day dianggap sukses. Tapi manfaat yang jauh lebih dalam dan lebih luas, belum digali dan dinikmati oleh warga Jakarta. Car Free Day di Jakarta bagai batu hitam tergeletak sia-sia, padahal jika digosok dengan benar ia akan menjadi intan yang tak terukur nilainya.

Car Free Days seharusnya menjadi hari-hari berharga bagi warga Jakarta yang sehari-harinya mengalami berbagai macam tekanan. Car Free Day merupakan peluang untuk interaksi informal yang positif antar sesama setelah lama tenggelam dalam individualisme kemacetan.

Mengapa moment serupa di Ciclovia bisa menarik jutaan orang —bersepeda, main sepatu roda, road skating, aerobik, jalan-jalan, atau sekedar mejeng, menonton atau ditonton orang— dan semua tersenyum bahagia, juga para petugasnya meski mereka kelelahan.

Agaknya Jakarta hanya kekurangan visi. Hanya melihat Car Free Day dari satu sisi: udara bersih.
Padahal, jika kita teliti benar, ternyata sebetulnya ia bisa membei efek berantai yang sungguh positif: menggalang kebersamaan; memupuk naluri gotong royong; menumbuhkan kepercayaan antar sesama warga, bahkan antar warga dengan aparat pemerintah; bibir yang semula berkerut ke depan tertarik ke samping membentuk senyum lebar.

Dan kita tahu bahwa sebuah senyum tulus juga memiliki efek berantai yang jauh lebih positif lagi. Seperti sedekah, menurut Nabi. Kita juga tahu bahwa di Jakarta yang lebih sering terjadi adalah kerusuhan. Sama persis seperti mereka, sebelum ada Ciclovia.
Apa resepnya?

Hanya biaya operasional, kemauan politik, tim layanan publik dan keterlibatan masyarakat, kata Guillermo PeƱalosa, organisator Ciclovia.
Ethan menulis pengamatannya di streetsblog: “sungguh mengejutkan. Berada di jalanan bersama orang-orang lain ternyata bisa membuat ribuan orang itu begitu bahagia dan bersahabat.“

kegiatan dan fasilitas dalam ciclovia

“Yang pertama tergambar dalam benak saya jika mengenang Ciclovia adalah senyum spontan di setiap wajah yang saya temui. Tua-muda, kaya-miskin, pejalan kaki atau pesepeda, semua mencintai Ciclovia” kenang Clarence Eckerson produser StreetFilms, sebuah organisasi nirlaba di New York yang peduli pada masalah ruang publik, pedestrian, sepeda, dan kenyamanan di jalanan.

Gil menyatakan banyak kisah-kisah cinta dan perkawinan terlahir di Ciclovia sejak diadakan tahun 2000. Komentar para warganya:
“Tidak perlu biaya banyak untuk rekreasi di Ciclovia.”
“Ciclovia memberi peluang bagi kami untuk menikmati kota.”
“Sejak hadirnya Ciclovia kami jadi lebih sering berkumpul dan bermain bersama keluarga”
“Ciclovia adalah hal paling indah yang diberikan oleh kota pada warganya.”

Jangan lewatkan makna mendalam dari setiap komentar warga itu. Pemerintah memang banyak memberi di Ciclovia, warga pun berduyun-duyun menikmatinya. Beberapa lokasi dijadikan pusat kegiatan, instruktor disediakan untuk aerobik, sepatu roda, skating. Kios makan-minum gratis tersebar di mana-mana. Tidak punya sepeda? Ada banyak sepeda di taman-taman, gratis digunakan meski hanya di seputar taman saja. Ada puluhan taman seluas Monas, bahkan ada yang lebih luas lagi.

1.500 muda-mudi pilihan, semua gagah dan cantik, mengawasi Ciclovia dilengkapi sepeda, tas PPPK dan alat komunikasi yang terhubung ke pusat komando. Misi yang diemban: menanamkan rasa aman dan nyaman pada peserta Ciclovia; menumbuhkan keyakinan bahwa tidak akan terjadi hal-hal buruk saat mereka bebas beraktivitas, berjalan-jalan, bersepeda, skating dan sebagainya.

Warga benar-benar merasakan kemewahan itu, sekecil apa pun masalahnya, segera muncul petugas, cekatan membantu mereka memompa ban, misalnya. Persis seperti petugas baywatch, karena itu mereka dijuluki bikewatch.


Para angota bikewatch saat briefing dan saat in action

“Tugasnya menyenangkan. Selain merupakan olahraga, juga karena ada kontak langsung dengan orang-orang. Memberi anak-anak suatu permainan atau aktivitas. Membantu seorang anak mengatasi kesulitannya. Dan ketika si anak tersenyum, berterimakasih, luarbiasa rasa bahagia yang saya rasakan,” ujar seorang bikewatch girl ketika ditanya kesan-kesannya oleh StreetFilms.

Rekan prianya mengatakan: “Menyenangkan. Semua orang tersenyum pada saya. Saat seorang anak yang tersesat berhasil saya pertemukan dengan ayahnya, bukan main bahagianya saya.”

Bagi warganya, Ciclovia menjadi alasan terbaik untuk de-stress, keluar rumah menikmati udara segar, berolahraga, bertemu orang-orang. Menurut Gil, hal terpenting dalam Ciclovia adalah terwujudnya integrasi sosial, Ciclovia membuat warga bersatu, dan menyatu dengan kotanya. Ciclovia membuat hidup lebih berkualitas. Warga menjadi lebih toleran, mereka menjadi lebih sadar akan tindakan-tindakannya, dan lebih bahagia.

Sebuah contoh sederhana, di Jakarta sangat jarang pengemudi mau menghentikan atau memperlambat kendaraan untuk memberi kesempatan bagi pejalan kaki menyeberang. Bukan tidak mungkin bahwa kasus tersambarnya pejalan kaki oleh bus TransJakarta sebenarnya karena tidak diberi kesempatan untuk menyeberang oleh pengemudi kendaraan lain. Ia terjebak di antara jalur busway dan jalan raya, tak seorang pengemudi yang peduli.

Seandainya, 118 Car Free Days selama 2006-2007 lalu benar-benar dirayakan seperti Ciclovia, maka sejuta dua juta warga Jakarta pasti pernah saling senyum saling sapa, tak pandang status, usia atau gender.
Ketika di saat lain salah satu mengemudi, yang lainnya ingin menyeberang, dan mereka pernah bersua di Car Free Day, tentu kelanjutannya akan jauh berbeda bukan?

Di Bogota, selain Ciclovia juga ada program Dia Sin Carro, Hari Tanpa Mobil, setiap 1 Februari. Yang ini lebih radikal: mobil pribadi sama sekali tidak boleh bergerak di seluruh kota.
Di Jakarta, Hari Tanpa Kendaraan Bermotor sukses bagi Pemerintah, tapi bagi warganya?

Birokrat sebaiknya merancang program dengan lebih cermat dan sosialisasi yang lebih persuasif, jangan hanya berupa siaran pers, atau dikemas ala propaganda politik. Sebagus apa pun programnya tidak akan diabaikan masyarakat yang sudah makin alergi pada jargon politik.
Gubernur Sutiyoso memperkuat kesan itu ketika pada September 2007 datang menunggang mobil dikawal sepeda motor untuk meresmikan Hari Bebas Kendaraan Bermotor.
Coba tanya pada rumput yang bergoyang…

Read More...

Thursday, March 6, 2008

Pedestrian menambah omzet bisnis lho


The greatest little pedestrian street in the world | 00:52

Kenapa masyarakat kita belum melihat kelebihan-kelebihan pedestrian ya. Tengok saja Pasar Baru, meski sudah jadi area pedestrian masih saja pemilik usaha (atau karyawannya?) mondar-mandir mengendarai mobil atau motor.
Padahal kalau pedestrian dijaga tetap steril dari kendaraan bermotor, maka kenyamanannya terjamin. Yang datang akan semakin banyak dan omzet meningkat.

Jalan Sabang, misalnya, andaikan dikonversi jadi area pedestrian barangkali omzet toko-toko di sana akan naik berlipat kali. Dibanding mereka yang naik kendaraan, para pejalan kaki memiliki kemungkinan lebih besar untuk masuk ke toko. Time elapse mereka saat melewati toko jauh lebih lambat, iming-iming di etalase akan lebih terperhatikan dan bisa membuat mereka tertarik untuk masuk.

Misalkan jalan Sabang mampu menampung 100 mobil, maka kalau dibebaskan dari kendaraan bermotor jumlah orang yang lalu lalang bisa ribuan, apalagi di sana-sini disediakan fasilitas untuk duduk. Atau sediakan arena kecil untuk para pengamen berkreasi, solo performance atau mereka bikin group untuk manggung bareng. Tidak sedikit lho pengamen yang kualitasnya bagus. Siapa tahu ada talent hunter yang menemukan mereka.

Apalagi tiap bulan ada Car Free Day di Thamrin, wah kalau punya toko di jalan Sabang saya provokasi semua tetangga untuk minta dijadikan area pedestrian...

Read More...

Friday, December 7, 2007

Kawasan Ramah untuk Pejalan Kaki

Saptono Istiawan

Ada kecenderungan baru di Amerika Serikat yang mungkin bisa kita jadikan renungan mengenai lingkungan kota di Indonesia. Kecenderungan itu adalah mengidamkan dan mengusahakan kawasan kota yang punya kualitas walkability atau mudah untuk dijelajahi dengan berjalan kaki seperti disebut dalam Yahoo! News baru-baru ini.

Kecenderungan ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan oleh The Brooking Institution, sebuah lembaga swadaya masyarakat nirlaba yang didirikan tahun 1916 dan berbasis di Washington DC, AS. Survei ini dijalankan oleh Profesor Christoper B Leinberger, seorang dosen tamu di institusi itu yang juga seorang pengembang properti (developer) yang punya pandangan jauh ke depan.

Leinberger melakukan kuantifikasi kecenderungan untuk membangun lingkungan yang nyaman bagi pejalan kaki dari suatu kota dengan menghitung jumlah kawasan yang mudah diarungi dengan berjalan kaki. Dia menetapkan kriteria-kriteria bagi kawasan yang qualified sebagai kawasan yang walkable.

Pertama, kawasan itu merupakan suatu kawasan campuran, yakni kawasan yang memiliki permukiman, pertokoan, perkantoran, tempat kerja, fasilitas pendidikan/kampus, dan fasilitas fasilitas kebudayaan dalam suatu wilayah yang bisa terjangkau dengan nyaman dengan berjalan kaki, yang pada prinsipnya juga memikat penghuni dari kawasan lain untuk masuk ke wilayah itu dengan berjalan kaki juga. Jadi harus bersifat inklusif.

Kedua, kawasan itu harus memberi kemudahan bagi para pejalan kaki untuk mencapai semua fasilitas yang ada di kawasan tersebut.

Ketiga, kawasan itu tidak memerlukan subsidi besar dari pemerintah federal atau pemerintah negara bagian untuk memacu pengembangan dirinya.

Kuantifikasi dilakukan dengan menghitung perbandingan antara banyaknya kawasan yang memenuhi kriteria di atas di suatu kota dan jumlah penduduk kota yang bersangkutan.

Berdasarkan survei 30 kota terbesar di AS, kota Washington DC, ibu kota AS, merupakan kota yang memiliki sarana terbanyak bagi pejalan kaki (walkable places).

Washington memiliki 20 walkable places. Kalau dihitung per kapita, setiap walkable places melayani 264.000 warganya. Kota New York sebenarnya punya walkable places yang lebih banyak, yaitu 21 tempat, yang kebanyakan berada di wilayah Manhattan. Namun karena jumlah penduduknya jauh lebih banyak, New York gagal menempati peringkat pertama.

Survei ini juga mengungkapkan bahwa walkable places terutama tumbuh di kawasan yang dilewati atau memiliki sistem transportasi massal seperti jaringan subway.

Secara keseluruhan, Leinberger, yang juga direktur program magister real estat di University of Michigan, berhasil mengidentifikasi 157 walkable places di 30 kawasan metropolitan itu. Ternyata kota Tampa di Negara Bagian Florida merupakan satu-satunya kota metropolitan yang tidak punya kawasan ramah pejalan kaki.

Lalu bagaimana dengan kotakota besar di Indonesia? Kecenderungan untuk memanjakan pejalan kaki juga sudah melanda kita sejak lama. Superblok-superblok yang bertumbuhan dewasa ini sebenarnya juga merupakan walkable places. Superblok merupakan kawasan kepadatan tinggi dengan bangunan-bangunan tinggi mixed used yang mengintegrasikan zona hunian, tempat kerja, rekreasi, dan belanja. Penghuninya bisa mencapai dengan mudah setiap zona dengan berjalan kaki.

Penghematan energi

Hal itu turut menunjang penghematan energi dan membantu mengurangi pencemaran udara di tengah kota. Namun, kawasan superblok umumnya masih bersifat eksklusif karena secara prinsip hanya melayani penghuninya saja. Tentu tidak masuk dalam kriteria Leinberger sebagai kawasan yang amat nyaman buat pejalan kaki yang secara teknis dia sebut sebagai regional serving walkable urban spaces (ruang ruang urban yang mudah dijelajahi dengan berjalan kaki dan berfungsi meladeni kebutuhan penghuni kawasannya).

Tetapi tak mengapa, setidaknya ada benih-benih semangat untuk memanjakan pejalan kaki yang bisa disemai di sini.

Contoh lain yang menunjukkan pemihakan kepada pejalan kaki adalah kawasan-kawasan yang tertutup bagi kendaraan bermotor, seperti kawasan belanja Pasar Baru di Jakarta Pusat dan kawasan di sekitar Taman Fatahillah di Jakarta Utara. Fasilitas transportasi busway juga merupakan sarana yang potensial untuk menumbuhkan kawasan seperti ini di pusat kota Jakarta.

Ini merupakan berita baik bagi penghuni kota kita yang mulai muak dengan semakin tersiksanya mereka atas ketergantungannya pada kendaraan bermotor.

Dalam kesempatan lain dalam bukunya yang berjudul The Option of Urbanism, Investing in a New American Dream terbitan Island Press 2007, Leinberger mengungkapkan bahwa warga kota AS mulai menyuarakan kecaman kerasnya terhadap kebijakan tunggal penataan kota-kota di AS yang dianut secara ketat selama hampir enam dekade belakangan ini. Polanya adalah deretan mal-mal (mall strip) dan kota yang merambah (urban sprawl), yaitu pengembangan kota ke segala arah dalam kawasan-kawasan dengan kepadatan rendah dan dengan inti berupa deretan mal-mal. Persis seperti yang dilakukan (ditiru?) di sekeliling kota Jakarta saat ini.

Leinberger menuduh kebijakan yang dianut para pengembang di AS selama ini berakar dari kepentingan industri mobil dan perusahaan minyak. Semua kawasan pinggir kota dirancang agar dapat dicapai dengan mudah dengan kendaraan bermotor (drivable suburban). Jalan-jalan bebas hambatan dibangun ke segala arah. Terowongan (underpass) dan jalan layang (fly over) dibuat di setiap persimpangan dan kalau mungkin setiap penduduk memiliki kendaraan bermotor sendiri-sendiri (one people one engine).

Dengan ini kota-kota besar mengalami kemajuan yang luar biasa, tetapi juga dengan harga yang amat semakin tak tertanggungkan. Drivable suburban merupakan penyebab khusus dari kemerosotan komunitas kota. Masyarakat kota terpecah-pecah sesuai dengan kawasan tempat mereka bermukim, belum terhitung pengotakan dalam kelas-kelas pendapatan dan kerusakan lingkungan. Semua ini akhirnya bermuara pada apa yang disebut dengan keruntuhan sosial masyarakat kota (urban decay) di AS.

Sebagai reaksinya, 15 tahun belakangan ini 138 juta penduduk kota AS, terutama yang kelas menengah, sedang gencar-gencarnya menyuarakan tuntutan bagi perubahan kebijakan perkotaan secara mendasar.

Mereka mengidamkan suatu komunitas urban yang baru di mana mereka dapat tinggal, bekerja, belanja, berekreasi, dan berinteraksi di suatu kelompok kawasan yang terjangkau dengan berjalan kaki (within easy walking distance). Karena itu, idealnya kawasan itu berada di tengah kota dalam kawasan yang tinggi kepadatannya.

Kembali ke Indonesia, kawasan pejalan kaki mendapatkan momentum baru berupa isu pemanasan global. Namun yang lebih penting lagi sebenarnya juga momentum untuk menata kembali masyarakat perkotaan agar lebih membentuk suatu komunitas sosial yang lebih utuh dan integral.

Saptono Istiawan IAI [kompas]

Read More...

Sunday, November 25, 2007

Kota tua bebas kendaraan

Hari ini kawasan Kota Tua dinyatakan bebas kendaraan bermotor. Acara Car Free Day ini agaknya seperti yang dijanjikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya, bahwa setiap bulan akan ada hari bebas tanpa kendaraan bermotor di berbagai wilayah Jakarta secara bergilir

Dalam jumpa pers 21 Nopember lalu, Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Budiana Natakusumah menyatakan acara ini dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan sekaligus mendorong masyarakat beralih ke angkutan massal.

Kegiatan dilakukan sejak 06.00 pagi hingga 14.00, sekaligus dilakukan pencanangan bebas rokok di sekolah, institusi kesehatan, angkutan umum dan rumah ibadah.

Jalan-jalan yang tertutup meliputi Jalan Tongkol, Jalan Cengkeh, Jalan Kalibesar Timur, Jalan Pos Kota dan Jalan Pintu Besar Utara.

Read More...

Thursday, September 20, 2007

Jakarta untuk manusia?

Pedestrian Mulai Dibongkar Demi Busway Cililitan - Priok

Ari Saputra - detikcom

Jakarta - Sepuluh pekerja kasar terlihat lelah memecahkan beton-beton di tepi Jalan Enggano dan Jalan Yos Sudarso (depan depo Plumpang), Jakarta Utara. Dengan peralatan manual berupa martil besar yang diayunkan, beton itu pun hancur perlahan. Lantas, pekerja kasar itu mengambil runtuhan material dengan sekop dari anyaman bambu dan menaruhnya di tepi jalan.

Pengguna jalan harus berhati-hati menghindari timbunan material itu. Pada jam-jam sibuk, situasi ini memacetkan arus lalu lintas di kedua ruas jalan raya itu.
"Trotoar itu memang dibongkar untuk pelebaran jalan busway," kata Kepala Bagian administrasi sarana Perkotaan (ASP) Jakarta Utara, Yuliadi, pada detikcom, Kamis (20/9/2007).

Proses pembongkaran di kedua ruas jalaan itu telah dilakukan mulai Senin 17 September. Pembongkaran itu guna menambah kapasitas lajur supaya tidak menyempit bila busway telah beroperasi.
Sedikitnya 900 meter pedestrian di kedua jalan itu akan dipangkas tanpa ampun. Dengan sisi kanan dan kiri, panjang pedestrian yang dibabat mencapai dua kali lipatnya. Begitu pun halte bus di tepi jalan itu, akan dibersihkan.

Namun, menurut Yuliadi, pedestrian kan diganti dengan pedestrian baru berupa pembetonan di atas saluran air yang lebih sempit.
"Nanti kita ganti trotoar di atas saluran air yang dibeton," imbuhnya.

Beberapa pejalan kaki yang melintas menyatakan keberatanya atas pembongkaran trotoar. Namun tidak sedikit yang menyatakan dukungannya. Yang keberatan karena akses pejalan kaki menjadi terhambat sementara yang terbantu dengan busway, meminta pengerjaan busway tidak berlarut-larut.
"Kalau ada busway saya enak. Dari rumah di Rawasari tinggal naik, langsung turun di depan kantor," ucap Susi (28), karyawan lembaga asuransi di Jl Enggano, yang tengah melintas di pembongkaran trotoar.

Busway koridor X sepanjang 19 kilometer, dengan rute Terminal Cililitan - Jl Mayjen Sutoyo - Jl DI Panjaitan - Jl Jendral Ahmad Yani - Jl Yos Sudarso - Jl Enggano - Terminal Tanjung Priok PP. (aba/nrl)

Read More...

Tak Cukup Hanya Dengan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor

Dalam keseharian, hampir setiap hari kita selalu melibatkan kendaraan bermotor, utamanya untuk sarana transportasi. Baik kendaraan roda dua (sepeda motor) maupun roda empat (mobil). Sangat besar peranan kendaraan bermotor dalam mendorong suksesnya usaha kita.

Namun demikian, jarang sekali kita memikirkan akibat yang ditimbulkan dari kendaraan bermotor. Kita hanya mengambil manfaatnya saja, dan kurang peduli terhadap imbas yang ditimbulkannya, khususnya gas buang (asap). Asap kendaraan bermotor mengandung molekul-molekul kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Di antaranya zat berbahaya yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.

Dengan populasi yang demikian besar, tentu kita juga bisa membayangkan, betapa besarnya polusi (pencemaran) yang diakibatkannya. Berdasarkan riset Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dan sejumlah lembaga independen lainnya, pencemaran yang diakibatkan oleh asap kendaraan bermotor, merupakan polusi yang terbesar dan berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungannya. Bahkan, WHO memperkirakan, sekitar 70 persen penduduk kota di dunia, sesekali pernah menghirup udara yang tidak sehat, sedangkan sisanya menghirup udara yang bersifat marjinal.

Car Free Day

Lalu bagaimana caranya mencegah makin meningkatnya pencemaran udara yang diakibatkan asap kendaraan bermotor? Bertepatan dengan Car Free Day (Hari Tanpa Kendaraan Bermotor) yang jatuh pada Sabtu (22/9) mendatang, ada baiknya kita semua untuk tidak sama sekali menyentuh kendaraan bermotor pada hari itu. Saatnya kita menyadari dan peduli, untuk turut menciptakan udara yang bersih, sehat dan segar, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Namun, mewujudkan langit biru nan cerah, udara yang sejuk, bumi nan hijau, tak cukup hanya dengan memperingati Hari Tanpa Kendaraan Bermotor (Car Free Day). Dibutuhkan kesadaran kita semua sebagai pelaku penyebab polusi (termasuk juga industri kendaraan bermotor) untuk mengurangi pencemaran. Kita semua berkewajiban untuk menjaga dan memelihara eksistensi planet (bumi) ini dengan segala ekosistemnya dalam kehidupan yang sehat dan alami.

Kata lain dari Hari tanpa Kendaraan Bermotor ini adalah larangan mengemudi. Khusus untuk hari tertentu, seluruh pemilik kendaraan bermotor, dilarang mengemudikan kendaraan bermotor. Jika mau bepergian, hendaknya hanya dengan berjalan kaki atau bersepeda. Kita tentu apreciated dengan langkah sejumlah Pemerintah Daerah (Pemda) yang menetapkan aturan agar seluruh karyawannya pada hari tertentu harus memakai sepeda untuk ke kantor.

Di samping langkah di atas, hal lainnya yang diharapkan efektif untuk mengurangi pencemaran lingkungan oleh kendaraan bermotor adalah dengan menerapkan aturan pengendalian transportasi. Beberapa negara di Eropa, juga telah menerapkan sejumlah aturan untuk mengendalikan transportasi (transportation control measures/TCM) sekaligus mengurangi pencemaran udara. Seperti larangan masuk, larangan parkir, hari tanpa mengemudi, bersepeda, kerja jarak jauh dan menggunakan bahan bakar alternatif atau teknologi baru.

Sejumlah TCM dipasang dan dipusatkan pada pengurangan kepadatan lalu lintas dengan menggunakan sistem yang berkisar dari metode fisik, seperti lampu lalu lintas yang terkoordinasi, jalan satu arah dan bermobil patungan (three in one) atau jalur bus yang terpisah (busway), sampai metode penggunaan insentif ekonomi, misalnya 'tarif jalur padat' yang mengharuskan pengemudi membayar jika melalui jalan raya di saat lalu lintas padat.

Kita juga berharap, para produsen menciptakan kendaraan yang ramah lingkungan, misalnya dengan teknologi hybrid, fuel cell, electrical car dan lain sebagainya. Inilah tantangan besar bagi produsen otomotif nasional dalam menghadirkan teknologi kendaraan yang ramah lingkungan dengan emisi gas buang rendah dan terbebas dari bahan-bahan berbahaya. sya (Republika )

Read More...

Monday, August 20, 2007

Kota Hijau dengan "Hakata Bi jin"

Fukuoka, Kota Hijau dengan "Hakata Bi jin"
R Adhi Kusumaputra

Musik jazz dari grup Shakatak terdengar saat menyusuri lorong-lorong Tenjin Underground Shopping Arcade. Pusat perbelanjaan yang dibangun di bawah tanah itu dipenuhi orang yang lalu lalang.
Ini tidak heran karena lorong-lorong bawah tanah itu diciptakan sebagai pusat perbelanjaan dan pusat mode dunia. Kawasan bawah tanah ini terkoneksi dengan 20 gedung perkantoran, pusat perbelanjaan di atasnya, dan stasiun subway.

Tenjin adalah salah satu pusat belanja, bisnis, dan hiburan di kota Fukuoka, salah satu kosmopolitan di Jepang. Setiap akhir pekan, kawasan ini dibanjiri kaum muda yang datang dari segala penjuru Kyushu, salah satu pulau di Jepang.

Fukuoka City adalah ibu kota Prefektur Fukuoka. Kota tua yang dibangun April 1889 ini kini menjadi kota modern seluas 340,60 kilometer persegi (separuh luas kota Jakarta) dan berpenduduk 1,4 juta jiwa. GNP kota Fukuoka saat ini 6.172 miliar yen Jepang.
"Kami ciptakan kota yang aman didukung sistem transportasi yang nyaman," kata Deputi Wali Kota Fukuoka Hiroyuki Takada kepada peserta Asian City Journalist Conference, awal Agustus lalu.

Fukuoka sebuah kota yang sibuk, namun harmoni dengan alam. "Kami ciptakan Fukuoka sebagai tempat bagi masyarakat dunia untuk bertemu, berdiskusi, dan juga rileks," kata Takada.
Jumlah turis yang datang ke kota Fukuoka meningkat, dari 15,6 juta orang pada tahun 2000 menjadi 16,3 juta orang pada tahun 2004. Berbagai konvensi internasional digelar di kota ini.

Salah satu tempat favorit di Fukuoka adalah Tenjin. Di sini, pejalan kaki mendapat tempat karena pedestrian dibangun lebar dan nyaman. Sejumlah department store berdiri, selain gedung perkantoran berarsitektur modern. Pemerintah setempat juga membangun ruang publik dengan taman nan hijau. Kicau burung terdengar nyaring di antara gedung-gedung jangkung.

Ada yang menarik dari Tenjin. Sejak tahun 2005, dikembangkan New Tenjin Shopping Arcade, pusat perbelanjaan dan gaya hidup di bawah tanah, yang dibangun pengembang swasta. Tenjin Underground sudah ada sejak 1976. Namun, melihat kemacetan lalu lintas kian parah, pihak swasta pun mengembangkan New Tenjin Underground menjadi pusat gaya hidup yang memesona.
Di kawasan bawah tanah ini, Anda dapat menikmati 150-an toko yang menjual busana, sepatu, buku, pakaian tradisional Jepang, kafe, dan restoran. Busana yang dijual mode mutakhir, sama seperti yang dijual toko-toko busana di Paris, New York, dan Tokyo.

Ketika Kompas menyusuri kawasan New Tenjin Underground Shopping Arcade, kesan yang muncul, di mana-mana terdengar musik jazz. Di mana-mana berjumpa perempuan Jepang cantik dan modis ala Barat. Di mana gerangan perempuan Jepang berpakaian tradisional?
"Mereka terlihat di keramaian dengan kimono jika ada festival," tutur Toshiharu Onoyama, warga Fukuoka yang bekerja di UN-Habitat, sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pusat gaya hidup di bawah tanah ini memberi kenyamanan kepada pengunjung karena mereka tak khawatir tersengat matahari atau tersiram air hujan. Pengunjung dengan mudah menjangkau toko-toko di sini karena terkoneksi dengan stasiun subway dan kereta api, serta bus umum.

"Hakata bi jin"

Musik jazz terdengar di mana-mana? Ya. Di toko busana Clear Impression, misalnya, terdengar jelas musik dari grup jazz Shakatak asal Inggris yang pernah manggung dan rekaman album di Jepang.
Di Starbucks Coffee, musik jazz dari gitaris Earl Klugh menjadi teman saat ngopi. Pengunjung tampak menikmati suasana. Ada yang asyik dengan laptopnya. Ada yang serius ngobrol, juga membaca buku sambil menyeruput caramel macchiato (Starbucks yang kini dikendalikan Chairman Howard Schultz sampai awal 2007 memiliki 7.521 gerai yang dikelola sendiri dan 5.647 gerai waralaba di 40 negara, termasuk di Jepang).

Perempuan-perempuan Jepang di sini terlihat modis dengan mode busana mutakhir. Rambut mereka umumnya dicat. Ini tidak heran karena dari seluruh Jepang, Fukuoka dikenal dengan sebutan Hakata bi jin atau beautiful women, kota dengan banyak perempuan cantik.
Tak heran jika sejumlah department store yang terkoneksi dengan Underground Shopping Arcade seperti Inter Media Station (IMS), Tenjin Core, Iwataya, Vivre, dan Mitsukoshi, banyak menjual pakaian perempuan dengan mode mutakhir di lantai bawah.

Sayuri Tomita (23), yang bekerja di salah satu kantor berita di Fukuoka, mengaku merasa harus mengikuti perkembangan mode dunia. Dan itu juga dilakukan banyak perempuan Jepang lain di Fukuoka.

Selain terkenal dengan Hakata bi jin, Fukuoka juga dikenal sebagai kota yang memiliki banyak tempat berjualan ramen (mi china yang populer di Jepang). Kompas yang berjalan pada Rabu (1/8) malam menyusuri kawasan Tenjin, melihat di mana-mana terlihat gerobak ramen.
"Orang Hakata lebih suka makan ramen di tempat kaki lima seperti ini. Biasanya warung ramen buka sampai pukul lima menjelang pagi," cerita Tomita.

Peduli lingkungan hidup

Suasana aman terasa di sini meski berjalan hingga tengah malam. Jarang terlihat ada polisi. Gubernur Prefektur Fukuoka Wataru Aso menjamin siapa saja yang mengunjungi Fukuoka akan merasa bahagia. Termasuk bahagia melihat betapa daerah ini peduli lingkungan hidup.
Di Kego Park, taman kota nan hijau, seorang perempuan Jepang berpakaian tradisional mempromosikan gaya hidup bersih. "Silakan ambil. Ini semacam tempat puntung rokok yang dapat dibawa ke mana-mana," kata sukarelawan dari LSM Green Bird.

Bayangkan, untuk membersihkan taman kota ini, puluhan sukarelawan diturunkan. Mereka menyapu dedaunan, menghilangkan grafiti di tembok, sampai memungut sampah.
Political will menciptakan kota nan hijau ditunjukkan pula pada tanaman merambat di dinding gedung Balaikota Fukuoka. Pagar dan tembok rumah di sudut kota ini juga diberi tanaman rambat nan hijau. Gedung ACROS Fukuoka pun didesain teras hijau.

Jakarta tentu dapat belajar dari Fukuoka, bagaimana membuat kota menjadi nyaman dan aman. Ketersediaan akses transportasi yang mudah (subway, KA, dan bus), kehadiran pusat gaya hidup di bawah tanah, sampai pada kepedulian warga kota terhadap lingkungan bersih dan hijau. [KOMPAS]

Read More...